Metrokalsel.co.id,BATULICIN – Sebanyak 84 anak tercatat mengalami stunting di 22 Desa Ring 1 PT Borneo Indobara (PT BIB) di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Angka ini menjadi perhatian serius perusahaan dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Pencegahan stunting membutuhkan pendekatan berkelanjutan, tidak hanya melalui pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga peningkatan pengetahuan keluarga mengenai pola asuh dan pola pemberian makan anak.

Sebagai langkah konkret, PT Borneo Indobara melalui Program Kesehatan CSR menggelar Training of Trainers (ToT) Kader Feeding Style dan Pencegahan Stunting pada 10–12 Agustus 2026.

Kegiatan berlangsung di Office PT BIB Angsana, Kecamatan Kuranji, dan Kecamatan Kepayang ini diikuti oleh 92 kader Posyandu dan Kader Pembangunan Manusia (KPM) Stunting dari 22 desa ring 1 perusahaan.

Kepala Departemen Empowerment & Development PT BIB, Silvyna Aditia, menegaskan bahwa penguatan kapasitas kader merupakan investasi jangka panjang dalam upaya percepatan penurunan stunting di wilayah Ring 1.

Pelatihan menghadirkan Tim Ahli Dosen Psikologi Universitas Padjadjaran (UNPAD) sebagai trainer dan fasilitator. Fokus utama pelatihan adalah meningkatkan kapasitas kader dalam memahami dan memberikan edukasi mengenai stunting, pola pengasuhan (parenting), serta pola pemberian makan anak (feeding style).

“Kader adalah ujung tombak pendampingan masyarakat. Dengan kapasitas yang mumpuni, mereka mampu menjadi agen perubahan yang memberikan edukasi tepat sasaran kepada keluarga-keluarga di desa masing-masing. Kami berkomitmen untuk terus mendampingi dan memperkuat peran mereka secara berkelanjutan,” ujar Silvyna saat ditemui di sela-sela kegiatan, Rabu (12/8).

Senada dengan itu, Arifah Farsya Selaku Pemegang Program Kesehatan CSR PT BIB,, menyampaikan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam memperkuat peran kader di tingkat masyarakat.

“Kami berharap melalui pelatihan ini kader semakin memahami pentingnya pola asuh dan pola pemberian makan anak. Ilmu yang didapat nantinya dapat diteruskan kepada masyarakat di masing-masing desa,” ujar Arifah.

Ia menambahkan, kegiatan ini melanjutkan berbagai pendampingan kesehatan yang sebelumnya telah dilakukan, seperti edukasi Menu CERIA (Cegah Stunting Raih Impian Anak), pendampingan kader, dan Posyandu Balita.

Selama tiga hari, peserta mendapatkan materi melalui buku dan video edukasi, serta dilengkapi dengan role play feeding style dan parenting agar peserta dapat memahami sekaligus mempraktikkan materi yang diberikan. Para kader juga diperkenalkan dengan Caregiver’s Feeding Style Questionnaire (CFSQ) sebagai instrumen untuk memahami pola pemberian makan yang diterapkan pengasuh kepada anak.

Kartini, kader Posyandu peserta pelatihan, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, materi yang diberikan menambah pengetahuan kader dalam mendampingi keluarga.

“Materinya sangat bermanfaat, terutama tentang feeding style dan parenting. Ada juga praktik dan role play sehingga kami lebih mudah memahami dan nantinya bisa menerapkannya saat mendampingi masyarakat,” ujar Kartini.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diteruskan kepada para ibu dan keluarga di desanya.

Untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta, kegiatan dilengkapi dengan pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan 100 persen peserta memperoleh sertifikat berdasarkan peningkatan pengetahuan yang dicapai.

Setelah mengikuti pelatihan, para kader akan melakukan transfer pengetahuan kepada masyarakat di masing-masing desa serta screening lapangan menggunakan CFSQ sebagai bagian dari proses pendampingan keluarga.

Kegiatan ToT ini merupakan bagian dari pendampingan kesehatan berkelanjutan CSR PT BIB. Sebelumnya, perusahaan telah menjalankan berbagai program pendukung pencegahan stunting, di antaranya edukasi Menu CERIA (Cegah Stunting Raih Impian Anak) yang memperkenalkan menu bagi bayi dan ibu hamil.

Selain itu, CSR PT BIB juga melakukan pendampingan kader secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai fasilitator serta pendampingan Posyandu Balita di wilayah Ring 1.

Melalui penguatan kapasitas 92 kader dari 22 desa, PT BIB berkomitmen memperkuat kolaborasi antara kader, Posyandu, tenaga ahli, pemerintah desa, keluarga, dan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang anak dan pencegahan stunting secara berkelanjutan. (hdy)