Metrokalsel.co.id,BATULICIN – Di bawah rimbun kelapa dan birunya langit pesisir, selembar spanduk terbentang. Tertulis besar: “STOP!!! DESTRUCTIVE FISHING”.

Di belakangnya, deretan anggota Komunitas Pemancing Keren (KPK Batulicin) berdiri. Joran boleh istirahat hari ini, karena yang diangkat adalah pesan.

Pesan itu datang dari orang yang paham betul rasanya ditarik ikan. Kasat Polairud Polres Tanah Bumbu, IPDA Akhmad Ubaidillah. Ia bukan hanya aparat, ia juga bagian dari komunitas KPK Batulicin, Sahabat sesama pemancing.

“Kita ini pencinta sungai dan laut. Karena cinta, kita harus jaga,” ujar Kasat Polairud ini.

Ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya para penggiat hobi mancing, untuk sama-sama menjaga kelestarian habitat ikan air tawar maupun air asin.
Tanah Bumbu, Bumi Bersujud yang kaya ekosistem, jangan sampai rusak karena ulah segelintir orang.

Setrum ikan, Bom ikan, Racun ikan.
Tiga cara itu mematikan. Ia membunuh induk, anak, telur, dan masa depan.

“Mari kita lestarikan. Kalau melihat ada pelaku illegal fishing, jangan ragu lapor. Biar ditindak sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.

Kasat Polairud Polres Tanah Bumbu, Ipda Akhmad Ubaidillah Saat Memancing di Lait Beberapa Waktu Lalu bersama komunitas prmancing

Bukan tanpa alasan. Penjagaan ini demi warisan.
Agar anak cucu kita kelak tidak hanya tahu nama “baung, jelawat, kakap” dari buku. Tapi bisa melihatnya, memancingnya, dan merasakan sungai yang masih hidup.

Tak hanya di air, pesan juga untuk di darat. Cuaca Kalimantan Selatan saat ini panas ekstrem.

“Untuk kawan-kawan pemancing di darat, tolong jangan buang puntung rokok sembarangan. Satu puntung bisa membakar hutan. Hobi kita jangan jadi bencana,” imbaunya.

Foto bersama di tepi pantai itu bukan sekadar dokumentasi. Itu sumpah. Sumpah para pemancing yang memilih melempar joran, bukan bom. Memilih merawat, bukan merusak. Karena sejatinya, pemancing sejati bukan yang paling banyak dapat ikan. Tapi yang paling menjaga agar ikan itu tetap ada. (alf)