Metrokalsel.co.id,BATULICIN – Pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Bumbu bersama Lembaga Adat Bugis (Ade Ogie) mencapai titik temu dalam pelaksanaan dua agenda besar daerah.
Setelah melalui rapat koordinasi yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah Tanah Bumbu, Yulian Herawati, pada Rabu (4/2/26) kemarin, disepakati Pesta Adat Mappanre Ritasie akan digelar secara terpisah dari peringatan Hari Jadi Tanah Bumbu dan Expo Pembangunan.
Kesepakatan ini dihasilkan dalam rapat yang berlangsung di Kantor Bupati Tanah Bumbu, dihadiri jajaran pemerintah daerah seperti Bapenda dan Kesbangpol, serta Ketua Lembaga Ade Ogie, Fawahisah Mahabbatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama ini, ketiga acara besar tersebut kerap dilaksanakan bersamaan, namun ke depan akan dipisah untuk memberikan fokus dan kekhususan pada masing-masing kegiatan.
Berdasarkan hasil pertemuan, ditetapkan bahwa:
1. Peringatan Hari Jadi Kabupaten Tanah Bumbu akan tetap dilaksanakan pada tanggal 8 April, dirangkai dengan Expo Pembangunan.
2. Pelaksanaan Pesta Adat Mappanre Ritasie di Pantai Pagatan akan digelar mulai tanggal 12 hingga 26 April 2026.
Puncak dari rangkaian acara adat ini akan berlangsung meriah dengan pembukaan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dan organisasi kepemudaan (OKP) dalam parade keliling kampung atau yang dikenal dengan Festival Mallibo Kampung. Adapun ritual puncak adat akan digelar pada 26 April 2026.
Ketua Lembaga Ade Ogie Tanah Bumbu, Fawahisah Mahabbatan, menyambut gembira keputusan ini. Ia mengatakan pemisahan jadwal ini sangat penting untuk menjaga esensi dan kekhusyukan ritual adat yang menjadi daya tarik utama Mappanre Ritasie.
“Kami ingin tradisi dan ritual tetap ada karena itu yang menjadi daya tarik acara Mappanre Ritasie ini. Itu sebabnya, dari Presiden, Wakil Presiden, Menteri dan pejabat negara pernah datang melihat kearifan lokal serta budaya dan tradisi Bugis Pagatan yang kental,” ujar Fawahisah.
Ia juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bupati Tanah Bumbu, Andi Rudi Latif, atas kepercayaan yang diberikan kepada lembaga adat untuk mengelola kembali jalannya pesta adat ini.
“Kami sangat berterimakasih kepada Pak Bupati Tanah Bumbu, Andi Rudi Latif, yang memberikan kepercayaan agar kegiatan dikembalikan ke Lembaga Adat. Kami sangat berterimakasih atas dukungan Pak Bupati,” tambahnya.
Pemerintah daerah melalui Sekretaris Daerah Tulian Herawati menyerahkan sepenuhnya pelaksanaan rangkaian acara dari tanggal 12 hingga 26 April kepada Lembaga Ade Ogie.
“Kita sepakati bersama, pembukaan Mappanre Ritasie jatuh pada tanggal 12 April, dan puncak acaranya pada 26 April 2026. Dengan dipisahnya jadwal dari peringatan Hari Jadi, kita ingin memberikan kekhususan pada pesta pantai ini,” ujar Yulian Herawati.
Lebih lanjut, Sekda menjelaskan bahwa pemisahan ini juga bertujuan untuk menghidupkan kembali esensi budaya yang selama ini dirasa mulai luntur dalam perayaan pesta pantai. Pemerintah daerah ingin mengembalikan ciri khas dan tradisi lokal Mappanre Ritasie.
“Jadi, kekhususan dari pesta pantai ini adalah kita mencoba menghidupkan lagi budaya yang sempat hilang dari kemasan acara. Dengan dipisah, dua konsep yang berbeda ini bisa sama-sama fokus. Pemerintah Daerah tetap hadir untuk memfasilitasi, misalnya dengan menyiapkan acara hiburan rakyat supaya suasana semakin ramai dan meriah,” jelasnya.
Yulian menambahkan, meskipun pelaksanaan teknis diserahkan kepada Lembaga Ade Ogie, Pemkab Tanah Bumbu melalui berbagai instansi terkait akan terus bersinergi. Dukungan fasilitasi ini diharapkan dapat mendorong kemeriahan acara sekaligus menggerakkan sektor UMKM dan pariwisata daerah.
“Dukungan Pemda hadir agar acara ini tidak hanya sakral secara adat, tetapi juga menjadi magnet wisata yang menguntungkan masyarakat,” pungkasnya.
Sekadar diketahui, kegiatan akan segera dimulai setelah Hari Raya Idul Fitri. Ajang tahunan ini akan dimeriahkan dengan berbagai atraksi, termasuk hiburan artis, gelaran event tradisional, serta tentunya pemberdayaan UMKM yang akan berjajar di tenda-tenda sepanjang kawasan wisata dan puncak parade Kapal Hias di laut Pagatan.
Mappanre Ritasie sendiri merupakan tradisi turun-temurun masyarakat adat Bugis Pagatan sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil laut selama satu tahun. Selain menjadi magnet wisata budaya, kegiatan ini diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat dengan melibatkan pelaku UMKM lokal.(hdy)








