
Metrokalsel.co.id,BATULICIN – Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Batulicin terus memperlihatkan kerajinannya. Kali ini berhasil menyelesaikan pembuatan sebuah lemari presisi di unit pembinaan kemandirian bidang mebel, Selasa (15/7/26).
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata peningkatan keterampilan warga binaan yang terus diasah melalui program pembinaan berkelanjutan.
Lemari presisi tersebut dikerjakan oleh dua orang warga binaan di bawah pendampingan petugas pembinaan. Proses pengerjaan berlangsung selama dua hari dengan hasil yang rapi, kokoh, dan memiliki kualitas yang tidak kalah dengan produk mebel profesional di luar lapas.
Hasil karya ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana internal Lapas Batulicin. Selain memberikan manfaat langsung bagi institusi, kegiatan tersebut menjadi media pembelajaran efektif bagi warga binaan untuk mengembangkan kemampuan teknis yang bernilai ekonomis sebagai bekal setelah kembali ke masyarakat.
Unit mebel Lapas Batulicin tidak hanya memproduksi lemari, tetapi juga berbagai produk lain seperti meja, kursi, rak, dan perlengkapan rumah tangga berbahan kayu. Ragam hasil karya tersebut menjadi indikator bahwa pembinaan kemandirian berjalan secara produktif dan berkelanjutan.
Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Batulicin, Harry Indrawan, mengatakan pembinaan keterampilan mebel diarahkan untuk membentuk warga binaan yang memiliki kompetensi kerja sekaligus etos kerja yang baik. Menurutnya, setiap produk yang dihasilkan menjadi tolok ukur keberhasilan proses pembinaan yang dilaksanakan secara konsisten.
“Pembuatan lemari ini menunjukkan warga binaan mampu menerapkan keterampilan yang diperoleh selama mengikuti pembinaan. Kami terus mendorong agar kemampuan di bidang mebel semakin berkembang sehingga menjadi bekal kerja yang bermanfaat, produktif, dan mampu meningkatkan kemandirian mereka setelah bebas nanti,” ujar Harry Indrawan.
Salah seorang warga binaan berinisial S mengaku bangga dapat terlibat dalam proses pembuatan lemari hingga selesai. Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan ilmu, kepercayaan diri, sekaligus keterampilan baru yang sebelumnya belum ia kuasai.
“Saya merasa senang karena mendapatkan kesempatan belajar membuat mebel secara langsung. Awalnya saya belum memahami teknik pengerjaannya, tetapi sekarang saya sudah mampu membuat lemari bersama teman-teman dan yakin keterampilan ini akan sangat berguna ketika kembali ke masyarakat,” ungkap S.
Sementara itu, Kepala Lapas Batulicin, Thoha Yahya Umar Sidiq, mengatakan penguatan program pembinaan kemandirian menjadi salah satu prioritas Lapas Batulicin dalam mencetak warga binaan yang kompeten dan siap menjalani kehidupan secara mandiri. Menurutnya, setiap hasil karya yang dihasilkan merupakan cerminan keberhasilan proses pembinaan yang berorientasi pada perubahan positif.
“Program pembinaan kemandirian terus kami optimalkan sebagai upaya membekali warga binaan dengan keterampilan yang memiliki nilai guna dan daya saing. Melalui karya-karya seperti lemari presisi ini, kami ingin memastikan setiap warga binaan memperoleh kesempatan untuk berkembang, meningkatkan kompetensi, serta memiliki bekal nyata guna membangun masa depan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat,” kataThoha Yahya Umar Sidiq.
Keberhasilan menyelesaikan pembuatan lemari presisi menjadi bukti bahwa pembinaan kemandirian di Lapas Batulicin terus berkembang secara nyata dan memberikan hasil yang produktif. (hdy)








Tinggalkan Balasan