Metrokalsel.co.id,KOTABARU – Kinerja PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (Indocement) sepanjang tahun 2025 menunjukkan hasil positif. Meski dihadapkan pada penurunan volume penjualan dan pendapatan, perseroan tetap mampu mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 12 persen.

Sepanjang 2025, total volume penjualan semen dan klinker Indocement tercatat sebesar 19,94 juta ton, atau turun 2,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan melemahnya pasar domestik yang turun 3,9 persen. Namun demikian, kinerja ekspor justru melonjak signifikan hingga 73,9 persen.

Dari sisi keuangan, pendapatan neto perusahaan tercatat sebesar Rp17,73 triliun, turun 4,4 persen. Sementara itu, beban pokok pendapatan juga menurun 4,2 persen menjadi Rp11,96 triliun. Kondisi ini menghasilkan laba kotor sebesar Rp5,77 triliun dengan margin laba kotor mencapai 32,5 persen.

Efisiensi perusahaan turut terlihat dari beban usaha yang turun 1,1 persen menjadi Rp3,68 triliun. Selain itu, Indocement juga mencatat keuntungan divestasi sebesar Rp670 miliar dari pembentukan usaha patungan bersama PT Cipta Mortar Utama.

Di sisi lain, tekanan masih dirasakan akibat rugi selisih kurs yang membuat beban operasi lain menjadi minus Rp49,9 miliar. Pendapatan keuangan neto juga mengalami penurunan tajam sebesar 91,1 persen, sementara kontribusi laba dari entitas asosiasi turun 74,6 persen.

Meski begitu, secara keseluruhan Indocement berhasil membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp2,25 triliun, meningkat 12 persen dibandingkan tahun 2024. Margin laba usaha tercatat sebesar 15,3 persen dan margin EBITDA mencapai 24,1 persen.

Dari sisi neraca, perusahaan tetap menunjukkan fundamental yang kuat dengan posisi kas dan setara kas sebesar Rp5,9 triliun hingga akhir 2025.

Memasuki tahun 2026, Indocement memperkirakan permintaan semen masih akan tertekan pada kuartal pertama akibat faktor musim hujan dan libur Idulfitri. Namun, mulai kuartal kedua, permintaan diproyeksikan kembali meningkat seiring masuknya musim kemarau dan naiknya aktivitas konstruksi.

Di tengah peluang tersebut, perusahaan tetap mewaspadai sejumlah risiko global, terutama potensi kenaikan biaya energi seperti batu bara dan bahan bakar. Untuk itu, efisiensi biaya dan pemanfaatan bahan bakar alternatif akan terus menjadi fokus utama perseroan.

Sebagai salah satu produsen semen terbesar di Indonesia, Indocement memiliki kapasitas produksi hingga 33,5 juta ton per tahun dan didukung oleh pemegang saham mayoritas, Heidelberg Materials AG. (ebt)