Metrokalsel.co.id,BATULICIN – PT Borneo Indobara secara resmi memulai elektrifikasi transportasi pertambangannya yang ditandai dengan dilaksanakannya Ceremony of Electrification and Green Mining Realization di Office Kusan PT Borneo Indobara, Senin (9/2/26).
Ratusan tamu hadir pada momen itu dari berbagai daerah di Indonesia hingga tamu dari China. Selain itu juga dihadiri Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG,Budi Harsono, Kepala Inspektur Tambang Kementrian ESDM, Ahmad Syauki S,Si ST secara virtual, Direktur Keuangan Human Capital dan Management PLN Energy Manahement Indonesia, Saulus Edwin Pamungkas serta tamu penting lainnya.
Ketua Pelaksana Kegiatan sekaligus Kepala Teknik Tambang PT Borneo Indobara (BIB), Riadi Simka Pinem, ceremonial of electrification and green mining ini adalah upaya efisiensi energi dan tentunya mendukung program ketahanan nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“ Dikegiatan ini, kita pamerkan sekitar 175 unit alat tambang pada 7 hingga 8 Februari serta hari ini sebagai peluncuran elektrifikasi ini,” katanya.
COO PT BIB, Raden Utoro, mengatakan bersyukur atas terselenggaranya peresmian program Elektrifikasi Alat Tambang BIB ini.
“Program ini mungkin merupakan yang pertama di Indonesia untuk skala sebesar. Ini dalam rangka HUT BIB ke-20, kami meresmikan penggunaan alat berat bertenaga listrik dan hybrid, yang telah dipamerkan sejak 7-8 Februari lalu,” katanya.
Sejauh ini, kata Utoro, PT BIB menargetkan elektrifikasi pada 2026 sebanyak 25% armada telah beralih ke listrik. Kedepan hingga 2028 menargetkan 75%, pada 2028-2029 mencapai Target Zero Emisi.
Program ini didukung oleh peningkatan pasokan listrik melalui pembangunan jaringan transmisi dan gardu induk, dengan kebutuhan puncak diperkirakan 200-240 MVA pada 2028.
“Kerjasama dengan PLN sangat krusial. Keandalan pasokan listrik mutlak diperlukan, karena pemadaman dapat menghentikan seluruh operasi tambang,” katanya.
Program ini sejalan dengan arahan Presiden untuk mengurangi ketergantungan impor BBM. Industri tambang nasional menghabiskan BBM senilai Rp 140 Triliun per tahun. Elektrifikasi adalah komitmen BIB untuk mendukung energi bersih dan green mining.
Jika 40% tambang batu bara nasional mengikuti elektrifikasi, dibutuhkan tambahan pasokan listrik sekitar 1.500 MW.
Teknologi Pendukung Lainnya di BIB adalah Modifikasi Cuaca dengan Drone dengan bekerjasama dengan BMKG untuk memodifikasi pola hujan. Selain itu ada Weigh in Motion (WIM) yaitu Timbangan presisi untuk truk tanpa perlu berhenti.
Program elektrifikasi dan inovasi ini adalah wujud komitmen BIB menuju “Sustainable Green Mining, Illuminating the World.”(hdy)








